Mohon maaf, untuk saat ini data belum tersedia...
Mohon maaf, untuk saat ini data belum tersedia...
| Hari ini | : | 171 |
| Kemarin | : | 68 |
| Total | : | 38.206 |
| Sistem Operasi | : | Unknown Platform |
| IP Address | : | 216.73.217.88 |
| Browser | : | Mozilla 5.0 |
Info
JAKARTA — Massa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti kebijakan pemerintah, terutama pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), anggaran pendidikan, serta sejumlah persoalan ekonomi dan demokrasi.
Aksi bertajuk “Merebut Kemerdekaan” itu melibatkan Front Mahasiswa Nasional (FMN) UI bersama sejumlah organisasi mahasiswa, di antaranya BEM UI, PNJ, dan IPB. Massa membawa berbagai atribut aksi berupa bendera, spanduk, dan poster yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Sejumlah poster secara khusus menyoroti program MBG yang menurut mahasiswa berkaitan dengan persoalan alokasi anggaran negara. Salah satu poster bertuliskan, "Usut tuntas Mega Korupsi MBG, Mas Bowo Gagal,".
Poster lainnya memuat sindiran terhadap kebijakan penganggaran pemerintah dengan menampilkan gambar Presiden Prabowo Subianto.
"Prabowo sedang mencari pengganti APBN pendidikan untuk MBG," tulis poster tersebut.
Ketua FMN UI Axel Wirasakti mengatakan aksi pada 18 Agustus merupakan kelanjutan dari gerakan mahasiswa yang telah dilakukan sebelumnya pada Juni 2026.
"FMN UI bersama dengan gerakan Demokratis mahasiswa seperti BEM UI, PNJ, IPB akan menyelenggarakan aksi demonstrasi kembali, 18 Agustus 2026," kata Axel dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Menurut Axel, mahasiswa masih mempertahankan tuntutan yang sebelumnya telah disampaikan. Mereka mendesak pemerintah memenuhi sejumlah tuntutan yang dinilai menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Salah satu tuntutan utama adalah penghentian program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Mahasiswa juga meminta pemerintah menjamin pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi.
"Kami masih dalam komitmen yang sama, mendesak tuntutan utama rakyat untuk dimenangkan, kami tetap menuntut untuk dihentikannya program MBG dan KDMP, mahasiswa butuh pendidikan gratis sampai jenjang kuliah," ujarnya.
Tuntutan mengenai pendidikan tersebut muncul di tengah besarnya perhatian pemerintah terhadap pembiayaan sektor pendidikan dan program prioritas nasional. Data pemerintah menyebut anggaran pendidikan pada 2026 mencapai sekitar Rp757,8 triliun atau 20 persen dari APBN.
Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tetap menjalankan program MBG. Pada awal 2026, BGN menyebut program tersebut telah menjangkau hampir 60 juta penerima manfaat. BGN juga menyatakan pelaksanaan MBG terus disesuaikan dengan kebijakan efisiensi dan penguatan tata kelola anggaran.
Dalam tuntutannya, mahasiswa turut mempersoalkan kondisi ekonomi masyarakat. Mereka meminta pemerintah menurunkan harga bahan kebutuhan pokok serta harga bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai menjadi beban dalam kehidupan sehari-hari.
Selain persoalan ekonomi, isu demokrasi juga menjadi bagian dari tuntutan aksi. FMN UI mendesak pemerintah menghentikan tindakan represif dan menolak keterlibatan militer dalam ranah sipil.
Mahasiswa juga meminta pembubaran Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP).
"Di tambah soal demokratisasi, kami menuntut untuk dihentikannya represifitas, hentikan militerisme ranah sipil, serta bubarkan Yon TP," kata Axel.
Tidak hanya itu, FMN UI mendesak Presiden Prabowo Subianto menarik kembali pernyataan-pernyataan dalam pidatonya yang dinilai mahasiswa tidak sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat.
Sebelum menuju lokasi aksi, massa mahasiswa direncanakan berangkat dari Kampus UI Depok. Mereka kemudian bergerak menuju kawasan Bundaran HI sebagai titik penyampaian aspirasi.
Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kritik mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, dengan tuntutan yang mencakup program pangan, pendidikan, kondisi ekonomi, serta persoalan demokratisasi.
Hubungi Aparatur Desa Untuk mendapatkan PIN
Total Populasi Desa Dukuhrejo
910 910
901 1811
1811
1811 1811
TOTAL : 1811 ORANG
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
| Alamat | : | Jl. Parto Sudiro RT 02 RW 02 Desa Dukuhrejo Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo |
| Desa | : | Dukuhrejo |
| Kecamatan | : | Bayan |
| Kabupaten | : | Purworejo |
| Kodepos | : | 54224 |
| Anggaran | : | Rp 1.309.615.751,00 |
| Realisasi | : | RP 1.256.766.409,00 |
95.96%
| Anggaran | : | Rp 1.183.606.540,00 |
| Realisasi | : | RP 1.111.626.971,00 |
93.92%
| Anggaran | : | Rp 186.579.789,00 |
| Realisasi | : | RP 186.579.789,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 1.685.093,00 |
| Realisasi | : | RP 1.685.093,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 113.275.736,00 |
| Realisasi | : | RP 102.265.895,00 |
90.28%
| Anggaran | : | Rp 765.705.000,00 |
| Realisasi | : | RP 765.705.000,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 56.037.550,00 |
| Realisasi | : | RP 37.060.550,00 |
66.14%
| Anggaran | : | Rp 326.292.400,00 |
| Realisasi | : | RP 313.188.400,00 |
95.98%
| Anggaran | : | Rp 45.421.272,00 |
| Realisasi | : | RP 35.162.552,00 |
77.41%
| Anggaran | : | Rp 838.700,00 |
| Realisasi | : | RP 838.700,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 360.000,00 |
| Realisasi | : | RP 860.219,00 |
238.95%
| Anggaran | : | Rp 559.256.090,00 |
| Realisasi | : | RP 503.651.821,00 |
90.06%
| Anggaran | : | Rp 240.564.800,00 |
| Realisasi | : | RP 229.852.700,00 |
95.55%
| Anggaran | : | Rp 313.872.450,00 |
| Realisasi | : | RP 313.072.450,00 |
99.75%
| Anggaran | : | Rp 15.913.200,00 |
| Realisasi | : | RP 11.050.000,00 |
69.44%
| Anggaran | : | Rp 54.000.000,00 |
| Realisasi | : | RP 54.000.000,00 |
100%
JAKARTA — Massa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti kebijakan pemerintah, terutama pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), anggaran pendidikan, serta sejumlah persoalan ekonomi dan demokrasi.
Aksi bertajuk “Merebut Kemerdekaan” itu melibatkan Front Mahasiswa Nasional (FMN) UI bersama sejumlah organisasi mahasiswa, di antaranya BEM UI, PNJ, dan IPB. Massa membawa berbagai atribut aksi berupa bendera, spanduk, dan poster yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Sejumlah poster secara khusus menyoroti program MBG yang menurut mahasiswa berkaitan dengan persoalan alokasi anggaran negara. Salah satu poster bertuliskan, "Usut tuntas Mega Korupsi MBG, Mas Bowo Gagal,".
Poster lainnya memuat sindiran terhadap kebijakan penganggaran pemerintah dengan menampilkan gambar Presiden Prabowo Subianto.
"Prabowo sedang mencari pengganti APBN pendidikan untuk MBG," tulis poster tersebut.
Ketua FMN UI Axel Wirasakti mengatakan aksi pada 18 Agustus merupakan kelanjutan dari gerakan mahasiswa yang telah dilakukan sebelumnya pada Juni 2026.
"FMN UI bersama dengan gerakan Demokratis mahasiswa seperti BEM UI, PNJ, IPB akan menyelenggarakan aksi demonstrasi kembali, 18 Agustus 2026," kata Axel dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Menurut Axel, mahasiswa masih mempertahankan tuntutan yang sebelumnya telah disampaikan. Mereka mendesak pemerintah memenuhi sejumlah tuntutan yang dinilai menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Salah satu tuntutan utama adalah penghentian program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Mahasiswa juga meminta pemerintah menjamin pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi.
"Kami masih dalam komitmen yang sama, mendesak tuntutan utama rakyat untuk dimenangkan, kami tetap menuntut untuk dihentikannya program MBG dan KDMP, mahasiswa butuh pendidikan gratis sampai jenjang kuliah," ujarnya.
Tuntutan mengenai pendidikan tersebut muncul di tengah besarnya perhatian pemerintah terhadap pembiayaan sektor pendidikan dan program prioritas nasional. Data pemerintah menyebut anggaran pendidikan pada 2026 mencapai sekitar Rp757,8 triliun atau 20 persen dari APBN.
Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tetap menjalankan program MBG. Pada awal 2026, BGN menyebut program tersebut telah menjangkau hampir 60 juta penerima manfaat. BGN juga menyatakan pelaksanaan MBG terus disesuaikan dengan kebijakan efisiensi dan penguatan tata kelola anggaran.
Dalam tuntutannya, mahasiswa turut mempersoalkan kondisi ekonomi masyarakat. Mereka meminta pemerintah menurunkan harga bahan kebutuhan pokok serta harga bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai menjadi beban dalam kehidupan sehari-hari.
Selain persoalan ekonomi, isu demokrasi juga menjadi bagian dari tuntutan aksi. FMN UI mendesak pemerintah menghentikan tindakan represif dan menolak keterlibatan militer dalam ranah sipil.
Mahasiswa juga meminta pembubaran Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP).
"Di tambah soal demokratisasi, kami menuntut untuk dihentikannya represifitas, hentikan militerisme ranah sipil, serta bubarkan Yon TP," kata Axel.
Tidak hanya itu, FMN UI mendesak Presiden Prabowo Subianto menarik kembali pernyataan-pernyataan dalam pidatonya yang dinilai mahasiswa tidak sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat.
Sebelum menuju lokasi aksi, massa mahasiswa direncanakan berangkat dari Kampus UI Depok. Mereka kemudian bergerak menuju kawasan Bundaran HI sebagai titik penyampaian aspirasi.
Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kritik mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, dengan tuntutan yang mencakup program pangan, pendidikan, kondisi ekonomi, serta persoalan demokratisasi.
Titik sudarti
21 Oktober 2026 07:29:23
Keren Semangat bekerja dan selamat berjuang Terus semangat dalam berinovasi mencari terobosan baru...