Mohon maaf, untuk saat ini data belum tersedia...
Mohon maaf, untuk saat ini data belum tersedia...
| Hari ini | : | 214 |
| Kemarin | : | 68 |
| Total | : | 38.249 |
| Sistem Operasi | : | Unknown Platform |
| IP Address | : | 216.73.217.88 |
| Browser | : | Mozilla 5.0 |
Info
DUKUHREJO, PURWOREJO – Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, polarisasi sosial, hingga tantangan ekonomi yang semakin kompleks, Pancasila kembali dihadapkan pada ujian relevansinya sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Pertanyaannya bukan lagi apakah Pancasila masih penting, melainkan bagaimana nilai-nilainya tetap hidup dan menjadi pedoman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", sebuah pesan yang menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga jawaban atas berbagai tantangan kebangsaan dan global yang dihadapi Indonesia saat ini.
Dalam Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 di Gedung Pancasila, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh dipandang hanya sebagai dokumen sejarah atau slogan yang diucapkan dalam upacara kenegaraan. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman nyata dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesaktian Pancasila tidak terletak pada simbol atau seremoni semata. Kesaktian itu justru terlihat ketika nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial diwujudkan dalam kebijakan publik maupun perilaku masyarakat sehari-hari.
Saat para pendiri bangsa merumuskan Pancasila, mereka menghadapi ancaman kolonialisme dan perpecahan. Kini, ancaman hadir dalam bentuk yang berbeda. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, radikalisme digital, hingga polarisasi politik di media sosial berpotensi mengikis persatuan bangsa.
Pemerintah melalui berbagai lembaga menilai Pancasila tetap menjadi jangkar moral bangsa dalam menghadapi disrupsi teknologi, dinamika geopolitik, serta ancaman fragmentasi sosial yang berkembang di ruang digital. Nilai-nilai Pancasila dinilai mampu menjaga kohesi sosial di tengah keberagaman Indonesia yang sangat kompleks.
Dalam konteks ini, merawat kesaktian Pancasila berarti membangun budaya dialog, menghormati perbedaan, dan mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Selain tantangan sosial, persoalan ekonomi juga menjadi ujian penting bagi implementasi Pancasila. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya menghasilkan angka-angka statistik, tetapi harus menghadirkan kesejahteraan yang dirasakan secara nyata oleh seluruh rakyat Indonesia.
Ia menegaskan bahwa ekonomi Pancasila harus berlandaskan nilai religius, kemanusiaan, dan persatuan nasional. Kekayaan alam Indonesia harus dikelola sebagai amanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bukan hanya untuk kepentingan segelintir pihak.
Dalam semangat tersebut, koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta pembangunan desa dipandang sebagai instrumen penting untuk mewujudkan pemerataan kesejahteraan. Pemerintah juga menegaskan bahwa rakyat harus menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar objek pembangunan.
Merawat kesaktian Pancasila tidak selalu harus melalui kebijakan besar atau pidato kenegaraan. Nilai-nilai Pancasila justru hidup melalui tindakan sederhana masyarakat, seperti menghormati perbedaan agama, membantu sesama tanpa memandang latar belakang, menjaga etika dalam bermedia sosial, serta berpartisipasi dalam pembangunan lingkungan sekitar.
Di sekolah, Pancasila dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter. Di lingkungan kerja, melalui kejujuran dan profesionalisme. Di ruang digital, melalui sikap kritis terhadap informasi dan penolakan terhadap ujaran kebencian.
Kesaktian Pancasila pada akhirnya bukanlah sesuatu yang bersifat mistis atau simbolik. Kesaktian itu lahir dari kemampuannya untuk tetap relevan dan menjadi pedoman dalam menghadapi perubahan zaman.
Lebih dari tujuh dekade sejak Indonesia merdeka, Pancasila telah menjadi perekat bangsa yang mampu menyatukan ratusan suku, bahasa, dan budaya dalam satu negara. Di tengah tantangan abad ke-21, tugas generasi saat ini bukan hanya menghafal lima sila, tetapi menghidupkan maknanya dalam tindakan nyata.
Karena itu, merawat kesaktian Pancasila hari ini berarti menjaga persatuan, memperjuangkan keadilan sosial, memperkuat demokrasi yang beradab, serta memastikan bahwa kemajuan bangsa dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila akan tetap sakti bukan karena tertulis dalam konstitusi, melainkan karena terus dipraktikkan oleh bangsa yang meyakininya. (Adm)
Hubungi Aparatur Desa Untuk mendapatkan PIN
Total Populasi Desa Dukuhrejo
910 910
901 1811
1811
1811 1811
TOTAL : 1811 ORANG
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
| Alamat | : | Jl. Parto Sudiro RT 02 RW 02 Desa Dukuhrejo Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo |
| Desa | : | Dukuhrejo |
| Kecamatan | : | Bayan |
| Kabupaten | : | Purworejo |
| Kodepos | : | 54224 |
| Anggaran | : | Rp 1.309.615.751,00 |
| Realisasi | : | RP 1.256.766.409,00 |
95.96%
| Anggaran | : | Rp 1.183.606.540,00 |
| Realisasi | : | RP 1.111.626.971,00 |
93.92%
| Anggaran | : | Rp 186.579.789,00 |
| Realisasi | : | RP 186.579.789,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 1.685.093,00 |
| Realisasi | : | RP 1.685.093,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 113.275.736,00 |
| Realisasi | : | RP 102.265.895,00 |
90.28%
| Anggaran | : | Rp 765.705.000,00 |
| Realisasi | : | RP 765.705.000,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 56.037.550,00 |
| Realisasi | : | RP 37.060.550,00 |
66.14%
| Anggaran | : | Rp 326.292.400,00 |
| Realisasi | : | RP 313.188.400,00 |
95.98%
| Anggaran | : | Rp 45.421.272,00 |
| Realisasi | : | RP 35.162.552,00 |
77.41%
| Anggaran | : | Rp 838.700,00 |
| Realisasi | : | RP 838.700,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 360.000,00 |
| Realisasi | : | RP 860.219,00 |
238.95%
| Anggaran | : | Rp 559.256.090,00 |
| Realisasi | : | RP 503.651.821,00 |
90.06%
| Anggaran | : | Rp 240.564.800,00 |
| Realisasi | : | RP 229.852.700,00 |
95.55%
| Anggaran | : | Rp 313.872.450,00 |
| Realisasi | : | RP 313.072.450,00 |
99.75%
| Anggaran | : | Rp 15.913.200,00 |
| Realisasi | : | RP 11.050.000,00 |
69.44%
| Anggaran | : | Rp 54.000.000,00 |
| Realisasi | : | RP 54.000.000,00 |
100%
DUKUHREJO, PURWOREJO – Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, polarisasi sosial, hingga tantangan ekonomi yang semakin kompleks, Pancasila kembali dihadapkan pada ujian relevansinya sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Pertanyaannya bukan lagi apakah Pancasila masih penting, melainkan bagaimana nilai-nilainya tetap hidup dan menjadi pedoman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", sebuah pesan yang menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga jawaban atas berbagai tantangan kebangsaan dan global yang dihadapi Indonesia saat ini.
Dalam Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 di Gedung Pancasila, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh dipandang hanya sebagai dokumen sejarah atau slogan yang diucapkan dalam upacara kenegaraan. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman nyata dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesaktian Pancasila tidak terletak pada simbol atau seremoni semata. Kesaktian itu justru terlihat ketika nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial diwujudkan dalam kebijakan publik maupun perilaku masyarakat sehari-hari.
Saat para pendiri bangsa merumuskan Pancasila, mereka menghadapi ancaman kolonialisme dan perpecahan. Kini, ancaman hadir dalam bentuk yang berbeda. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, radikalisme digital, hingga polarisasi politik di media sosial berpotensi mengikis persatuan bangsa.
Pemerintah melalui berbagai lembaga menilai Pancasila tetap menjadi jangkar moral bangsa dalam menghadapi disrupsi teknologi, dinamika geopolitik, serta ancaman fragmentasi sosial yang berkembang di ruang digital. Nilai-nilai Pancasila dinilai mampu menjaga kohesi sosial di tengah keberagaman Indonesia yang sangat kompleks.
Dalam konteks ini, merawat kesaktian Pancasila berarti membangun budaya dialog, menghormati perbedaan, dan mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Selain tantangan sosial, persoalan ekonomi juga menjadi ujian penting bagi implementasi Pancasila. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya menghasilkan angka-angka statistik, tetapi harus menghadirkan kesejahteraan yang dirasakan secara nyata oleh seluruh rakyat Indonesia.
Ia menegaskan bahwa ekonomi Pancasila harus berlandaskan nilai religius, kemanusiaan, dan persatuan nasional. Kekayaan alam Indonesia harus dikelola sebagai amanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bukan hanya untuk kepentingan segelintir pihak.
Dalam semangat tersebut, koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta pembangunan desa dipandang sebagai instrumen penting untuk mewujudkan pemerataan kesejahteraan. Pemerintah juga menegaskan bahwa rakyat harus menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar objek pembangunan.
Merawat kesaktian Pancasila tidak selalu harus melalui kebijakan besar atau pidato kenegaraan. Nilai-nilai Pancasila justru hidup melalui tindakan sederhana masyarakat, seperti menghormati perbedaan agama, membantu sesama tanpa memandang latar belakang, menjaga etika dalam bermedia sosial, serta berpartisipasi dalam pembangunan lingkungan sekitar.
Di sekolah, Pancasila dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter. Di lingkungan kerja, melalui kejujuran dan profesionalisme. Di ruang digital, melalui sikap kritis terhadap informasi dan penolakan terhadap ujaran kebencian.
Kesaktian Pancasila pada akhirnya bukanlah sesuatu yang bersifat mistis atau simbolik. Kesaktian itu lahir dari kemampuannya untuk tetap relevan dan menjadi pedoman dalam menghadapi perubahan zaman.
Lebih dari tujuh dekade sejak Indonesia merdeka, Pancasila telah menjadi perekat bangsa yang mampu menyatukan ratusan suku, bahasa, dan budaya dalam satu negara. Di tengah tantangan abad ke-21, tugas generasi saat ini bukan hanya menghafal lima sila, tetapi menghidupkan maknanya dalam tindakan nyata.
Karena itu, merawat kesaktian Pancasila hari ini berarti menjaga persatuan, memperjuangkan keadilan sosial, memperkuat demokrasi yang beradab, serta memastikan bahwa kemajuan bangsa dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila akan tetap sakti bukan karena tertulis dalam konstitusi, melainkan karena terus dipraktikkan oleh bangsa yang meyakininya. (Adm)
Titik sudarti
21 Oktober 2026 07:29:23
Keren Semangat bekerja dan selamat berjuang Terus semangat dalam berinovasi mencari terobosan baru...